Di tradisi Batak, orang tua akan sangat bangga bila anaknya di terima sebagai Pegawai Negeri. Bukan berarti kalau jadi pegawai swasta nggak bangga, tapi memang jadi Pegawai Negeri itu suatu hal yang lebih tinggi dari pegawai swasta. Tapi tidak semuanya orang/keluarga Batak berpikir begini.
Pernah suatu saat pernah gw mendapatkan pertanyaan dari keluarga gw “Ju..lo daftar jadi CPNS aja, lo pasti bakal diterima”..dan gw jawab dengan sombong “Nggak, gw paling males jadi PNS”..pasti heran kenapa di saat orang2 banyak pengen jadi CPNS tapi gw nggak mau? Jawabnya sederhana “Gw nggak mau seperti PNS kebanyakan yang korupsi, nggak disiplin, berbelit-belit,males,dll”
Nah, suatu saat gw nemenin kakak gw untuk mengurus Surat Keterangan Waris perihal “meninggalnya bokap gw”. Untuk mengurus itu kita harus minta surat dari RT, RW, dan Lurah. Nggak cukup di situ sampai Lurah kita harus disuruh balik ke RT,RW, dan kemuadian ke Kecamatan untuk minta tandatangan pengesahan Surat Keterangan Waris tersebut.
Masalahnya adalah selain prosesnya yang terlalu berbelit-belit, gw sangat menyesalkan kelakuan pada abdi negara itu yang mengambil kesempatan dalam kesempitan. Gw jelaskan ya apa kelakuan mereka:
1. Lurah, aparat di sini meminta imbalan Rp.200.000,- untuk biaya kepegurusan. Man! mereka tuh cuma ngetik dan ngeprint 1 lembar kertas doang minta segitu?
2. RW, sekretarisnya minta Rp.50.000/anggota keluarga dan di rumah gw ada sekitar 6 orang jadi total Rp.300.ooo,- untuk sebuah tandatangan RW . Kakak gw minta gw nemenin hadepin dia setelah seblumnya kakak gw kesini sendiri dan kesel.
akhirnya terjadi percakapan begini:
kakak gw: “pak,.kita sanggupin bayar segitu, tapi kita minta kwitansi dan pernyataan kalau itu memang peraturannya dari sini”
sekretaris RW: “Oh nggak ada itu, nggak ada kwitansi dan pernyataan..”
gw: “yee bapak kalo mau korupsi bilang aja sih pak!”
sekretaris RW: “Ade jangan bilang saya korupsi ya, itu memang peraturan tidak tertulis di sini”
gw: “yee itu sama aja korupsi pak!”
sekretaris RW: “ya sudah ini urus aja sendiri, kalian minta sendiri kerumah RWnya”
gw: “ya udah sini berkasnya, dimana rumah RWnya”
sekretaris RW:”di jalan ******”
gw: “Nama RWnya siapa pak?”
sekretaris RW: “nggak tahu,.tanya aja di sana yang Ketua RW ** mana?”
gw: “kalo gitu no.telp nya?”
sekretaris RW: “nggak tahu saya”
gw: “kok goblok banget sih bapak? masa bapak sekretarisnya nggak tahu apa2?
akhirnya gw keluar dari tempat RW itu sambil berkata “dasar goblok gitu kok bisa jadi ketua RW”
Dari situ gw berkeinginan untuk membasmi kelakuan petugas yang seperti itu dan kata keluarga gw “nggak mungkin orang di luar kepemerintahan bisa bersihin itu, makanya lo jadi PNS”. Sempat berpikir juga sih untuk gabung di PNS gara2 perkataan itu, namun mengingat seragam PNS yang nggak asik, gw mematahkan niat gw itu. Hahahaha….
Saran gw buat pemerintah, tolong dong birokrasi yang berbelit serta membuat kesempatan untuk korupsi itu dihapuskan.